11-08-2017

Oleh   TP.Singh/Kaushik Roy

Pers India mengomentari mengenai titik perpecahan di Simenanjung Korea, dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sudah bersumpah untuk menjalankan tindakan’tegas dan rasa marah’ karena tindakan tidak sepantas yang dijalankan oleh regim Pyongyong. Berbagai sangsi yang sudah dikenakan oleh Dewan Keamanan PBB, nampaknya sebagai tidak ada gunanya, dan juga tidak ada pengaruhnya terhadap regim Kim Jong Un. Berbagai harian lainnya sebagai mengatakan bahwa ‘berbagai sangsi’ sudah menjadi sebagai tindakan biasa saja dalam tindakan diplomasi internasional. Mas Media juga membahas karena dihentikannya perdagangan dari saham sejumlah perusahaan, yang sebagai dicurigai  sebagai perusahaan palsu. Dengan dijalankannya berbagai tindakan terhadap perusahan palsu  ini, sudah mendapatkan momentum.

Harian the Times of India mengatakan bahwa titik perpecahaan Korea, dengan perang kata kata menjadi kian tajam antaraq Korea Utara dan Amerika SErikat – dengan Pyongyong, mengancam untuk mengadakan serangan secara lebih dahulu terhadap daerah twerritorian Amerika Serikat terhadap pulau Guam, sementara Presiden Donasld Trump sudah berjanji untuk  menjalankan’tindakan tegas dan rasa marah’, jikalau pihak Korea Utara tidak menghentikan untuk mengancam negerinya. Ketegangan di Asia Timur terus meningkat sampat suatu batas, yang terjadi ketika Dewan Keamanan PBB  sudah mengenakan berbagai sangsi yang baru terhadap Korea Utara yang akan dapat merugikan pendapatannya yang berjumlah sekitar 3 Billion Dollar setahun hingga berkurang sampai 1/3 dari jumlah tersebut dan pihak Amerika Serikat sudah menghadapi pilihan cukup sulit mengenai keamanan, dimana pihak mana saja sudah menghadapi ancaman dari pihak berlawaqnan dan rasa kurang menyenangkan satu sama lainnya. Ini merupakan sebagai suatu kesalahan, untuk melihat dari sebelah Korea Utara sebagai sama sekali tidak masuk akal, dengan memberikan satu pihak mengenai system Stalin dengan pemimpin agung dan mempunyai hanya beberapa saja dari sumber. Ini merupakan mudah untuk melihat, mengapa regim sedemikian akan merasa kuatir akan ditindak oleh Korea Selatan yang bersifat lebih unggul lagi dan pasukan bersenjata Amerika Serikat. Kim Jong-un dari Korea Utara sudah mempersaksikan,  apa yasng sudah terjadi terhadaop dictator lainnya seperti Sadam Hussain di Iraq dan Muammar Gaddafi di Libya, Maka dari itu, ini sama sekali tidak di-inginkan agar Pyongyong akan melepaskan programme nuklir-nya, yang mana pihaknya mengganggap sebagai hanya jaminan bagi keamanan.

Harian the Statesman mengatakan Kemenangan Diplomasdi, dimana berbagai sangsi sudah merupakan cukup penting dalam system internasional. Mulai dari Iran sampai Korea Utara dan junta di Myanmar. Tindakan bersifat sedemikian dapat dilihat dalam tindakan paling ter-akhir, karena terjadinya lumpuh yang dikenakan terhadap Korea Utara oleh dewan Keamanan PBB, melalui tindakan respons pada percobaanMissile Balastic intercontinental yanmg ke-dua, yang sudah direncanakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam hal bersifat sebenarnya, resolusi yang dibuat oleh Smerika Serikat, sudah diterima, dengan tanpa satu katapun yanmg tidak disetujui dari Cina dan Russia. Disahkannya dengan suara bulat mengenai berbagai sangsi, walaupun, secara sering kali menghadapi berbagai perselisihan dari  parakil dari Beijing dan Moskow, dengan tanpa mengajukan suatu pertanyakan, merupakan kemenangan jarang sekali dibidang diplomasi, yang sebenarnya menguntungkan berbagai negara. Ini harus diakui sebagai ciri penting dari apa yang secara bersama sama ditunjukkan sebagai tindakan PBB terhadap Kim Jong-un di Korea Utara. Hal yang bersifat lebih penting lagi adalah persembahan bidang militer. Soal yang berhubungan dengan bidang ekonomi, akan dapat menimbulkan kerugian cukup besar, yang mana bukan saja dikenakan larangan bagi export yang bernilai lebih dari 1 billion dollar, bagi Negara kecil dimana jumlah total dari exportnya bernilai sekitar 3 billion dollar dalam tahun lalu.

Harian the Indian Express mengatakan dalam komenter yang berjudul tindakan pergerakan langkah tunggal dimana Dewan Jaminan dan Pertukaran India (SEBI) mengeluarkan surat edaran bagi perusahaan stock Exchange setempat agar menjalankan tindakan terhadap 331 perusahaan yang sudah didaftar dengan dicurigai dari perusahaan SHELL. Surat edaran SEBI untuk stock exchange mengatakan bahwa berbagai perusahaan, berjumlah sampai 162, dimana cadangannya diperdagangkan secara aktip, tidak akan dibolehkan untuk mengadakan perdagangan dalam buklan ini selaras dengan ‘Langkah Pengintaian Graded” yanmg dijalankan oleh pengatur pasaran modal, pada permulaan tahun ini. Pihak pengatur memberuitahukan pada stock exchange untuk melaksanajkan pemeriksaan audit guna memeriksa bidang keuangan dari berbagai firma tersebut, disamping mengadakan pemeriksaan bersifat bebas. Hal sedemikian sebagai meng-isyaratkan bahwa tindakan lebih lanjut, seperti tidak di-ikut sertakan akan menyusul, jikalau terdapat berbagai bukti mengadakan tindakan bersifat salah. Penggerebekan paling belakangan ini terhadap berbagai perusahaan yang dicurigai atau yang sebenarnya dari shell, jangan hendaknya menjadi sebagai meng-herankan dari tindakan pemerintah yang diadakan terhadap mereka yang meng -elakkan untuk membayar pajak. Dalam bulan lalu, Perdana Menteri Narinder Modi mengatakan bahwa pemerintah sudah membatalkan, pendaftaran lebih dari 100.000 perusahaan dalam satu tindakan saja dan lebih dari 37 000 perusahaan sudah di-identisifir bagi tindakan lebih lanjut  lagi.