“Keadaan  Tegang di  Semenanjung Korea”

Oleh- K.K.DAS / Dr. Jagannath Panda

Ketegangan antara Korea Utara  dan Amerika serikat nampaknya masuk suatu tahap baru dengan Pyongyang mengancam  akan meluncurkan serangan misile pada Guam, suatu pangkalan militer Amerika Serikat di kepulauan Pasifik.  Amerika Serikat selaku response, meperingatkan bahwa sesuatu aksi oleh Korea Utara akan menarik akibat-akibat serius dan akan mengakibatkan jatuhnya rejim di Pyongyang.   Menteri Pertahanan Amerika Serikat Jim Mattis, memperingatkan lebih lanjut bahwa Korea Utara  jangan sampai merasa berani memikir tentang aksi seperti itu karena kapabilitas militer Pyonyang secara besar tidak dapat dibandingkan dengan Amerika serikat.

Bagaimana pun juga, nampaknya bahwa  Korea Utara tidak mungkin akan mengadakan serangan  di Guam.  Tetapi, ini tidak dapat dilupakan sama sekali karena sikap konfrontasi  dari Kim Jong-un.   Ini mungkin sekali kedengaran sebagai retorika dan barangkali mencerminkan rasa takut dari Kim Jong-un.  Namun itu,  ini tidak lah rahasia bahwa Pyonyang dewasa ini menikmati tingkat tinggi dari keyakinan setelah negara itu  menarik perhatian internasional karena program nuklir dan misilenya.

Administrasi Amerika serikat di bawah Trump masih mengikuti jalan tradisional untuk mengenakan sangsi-sangsi dan tekana pada Korea Utara.  Sebenarnya, Dewan Keamanan PBB   di bawah pengaruh Amerika Serikat mensahkan sangsi-sangsi  baru.  Resolusi nomor 2371 (2017) berkenaan dengan negara DPRK, yang akan memberantas  pembangkitan pendapatan oleh Korea Utara lebih lanjut dengan mengingkarinya sebesar 1 miliyar dollar AS setahun yang membantu  program nuklir dan misile balistiknya.  Resolusi tersebut mentargetkan  empat bidang- yaitu batu bara, besi dan biji-biji besi,  biji-biji kaca, dan makanan hasil ikan,  yang sangatlah membantu Pyongyang untuk menghasilkan pendapatan  dari ekspor.  Untuk melanggar tekanan internasional yang makin meningkat, Kim Jong-un  mengadakan terus serangan-serangan lisan pada adminstrasi Trump.

Ungkapan retorika besar dari Korea Utara tentang  akan menyerang Amerika serikat merupakan suatu strategi yang pandai.  Maksud ini akan secara pelahan-pelahan akan mempersiapkan  dasar dan memaksa Amerika serikat agar mengumumkan   dan mengakui bahwa Korea Utara perlu diberi perhatian  istimewa dan secara singular  oleh Amerika serikat.  Ini merupakan strategi yang klasik dari Kim Jong-un  sejak lama untuk menciptakan tekanan internasional  yang membawa faedah bagi rejimnya, supaya masyarakat internasional, termasuk washington, akan emngakui  betapa pentingnya Korea Utara sebagai suatu negara berkekuatan nuklir dan berusaha mencapai suatu penyelesaian.   Maka, Korea utara mengancam terus Amerika Serikat.

Mengancam akan menyerang Guam merupakan suatu pikiran yang penuh berisiko., akan tetapi Kim Jong-un akan ingin  berbuat yang tidak biasa, untuk menganggu  status qo.  Maka, sesuatu peluncuran misile  ke arah Guam  nampaknya mungkin, akan tetapi Kim Jong-un  mungkin akan meluncurkan misile dalam suatu cara   bahwa  misile itu mungkin akan meledak sebelum sampai di Guam.  Maksudnya di belakang peluncuran misile  pada Guam, bagaimana  pun juga membantu Korea Utara untuk menilai tiga hal.  Pertama-tama, ketidak stabilan di kawasan asia-Pasifik akan berjalan terus. ; Yang kedua, ini membolehkan Pyongyang untuk  memberitahukan kepada masyarakat internasional tentang kapabilitas misile  jarak jauh ICBMnya , dan yang ketiga,  serangan mungkin akan membantu Korea Utara untuk menciptakan  tingkat ketakutan di Jepang dan Korea Selatan.  Pyongyang berkeyakinan bahwa aksi seperti itu akan mendesak Cina, yang merupakan sekutunya yang dapat dipercahayai  untuk memikir tentang suatu skenario tentang bagaimana cara-caranya untuk mengurus makin  memburuknya  skenario keamanan di Asia Timurlaut.

Dikenakan sangsi-sangsi  terhadap Korea Utara selalu merupakan isu sensitif antara Cina dan negara-negara anggota lainnya dari Dewan Keamanan PBB, khusunya Amerika Serika.  Untuk memberantas kegiatan-kegiatan nuklir  yang diadakan oleh Korea Utara, Cina berpandangan bahwa  ini tidaklah merupakan saluran yang efektif.  Di masa lampau, Cina mendukung sangsi-sangsi Dewan keamanan PBB, akan tetapi melawan ‘sangsi-sangsi keras’, dengan mempertahankan  pandangannya bahwa PBB harus memakai sangsi-sangsi lunak  supaya ini memaksa Korea Utara agar duduk di meja perundingan untuk diadakan dialog.

Dengan menegaskan  pada  melindungi aspek-aspek  ‘nafkah pencaharian hidup’ dan ‘perikemanuisian’ bagi Korea Utara,   Cina  ingin melindungi –diri sebagai pembela utama Korea utara dan tetap relevan secara strategis di kawasan tersebut.  Disamping  itu, Asia Timurlaut merupakan kawasan tetangga Cina sendiri, dimana Beijing tidak ingin  terjadinya sesuatu krisis perikemanusiaan atau militer.

India tetap waspada pada makin berubahnya skenario geo-politik di Asia Timurlaut.  New Delhi mengecam  percobaan misile  Korea Utara  yang bersifat propokatif.  India juga mengatakan bahwa sikap nuklir dari Korea Utara tetap merupakan prihatin keamanan  bagi kawasan ketetanggan  India.  India harus memonitor  situasi  yang muncul secara dekat.  Sekian*****