“Pakistan Menganjung Lagi Untuk Menipu”

Oleh :T.P.Singh /Ahok Handoo :  Dalam apa yang tertampak sebagai permainan aneh, pihk-pihak penguasa Pakistan menyerukan agar disediakan keamanan lebih ketat kepada dalang serangan-serangan Mumbai tertanggal 26 Nopember, Hafiz Saeed.  Ini menjelaskan volume mengenai betapa non-serius  Pakistan dalam berjuang terhadap terorisme.

Pihak-pihak penguasa federal menulis kepada depatmen urusan dalam negeri di propinsi Punjab di Pakistan untuk mengambil langkah-langkah lebih  keamanan lebih ketat bagi dalang seragan Mumbai, Hafiz Saeed yang berada dalam penahanana, dengan mengklaim bahwa ada suatu “badan inteligen luar negeri”  yang mempunyai rencana untuk  membunuh dia.

Pihak Penguasa Kontra-Terorisme Nasional Pakistan , NCTA mengatakan bahwa badan intelijen luar negeri sudah membayar 80 juta rupee kepada dua orang aktivis dari suatu kelompok terlaranh  untuk membunuh Saeed.  Fihaknya mendesak  departmenen urusan dalam negeri propinsi Punjab  agar menjamin keamanan cukup ketat bagi kepala Jamaat-ud-Dawa, JuD,  Hafiz Saeed  yang berada dalam tahanan rumah di Lahore sejak tanggal 30 bulan Januari di bawah Akte Ani-Terorisme 1997.

Lebih lanjut lagi pemberitahuan dari otoriti NCTA tersebut menyatakan, “ ada kekhawatiran bahwa Saeed akan menimbulkan  situasi tata-tertib jika dibebaskan”.

JuD sudah dideklare sebagai suatu organisasi teroris luar negeri oleh Amerika Serikat di bula Juni 2014.   Sudah diumumkan hadiah sebesar 10 juta dollar oleh AS untuk menangkap Kepala JuD  atas peranannya d  lam kegiatan-kegiatan teror. Hanya bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson  selama kunjungannya yang pertama ke Pakistan mengatakan bahwa AS akan memberisuatu satu kesempatan yang terakhir kepada Pakistan agar mengubah sikapnya.  Bagaimana pun juga, ini tidak diperhatikan secara serius oleh Pakistan.

Sebenarnya, minggu lalu, mantan  Sekretaris Luar Negeri Pakistan dan Duta Besar Pakistan sekarang ini di Washington, Aizaz Ahmed Choudhary mengatakan bahwa serangan-serangan Mumbai  merugikan imej Islamabad secara global.  Menteri Luar Negeri Pakistan Khwaja Asif sudah melukiskan orang-orang seperti Hafiz Saeed dan Masood Azhar sebagai “kejengahan” bagi Pakistan.

Ketika negara itu menunggu untuk  pemilihan umum  dengan tidak ada banyak untuk mempertunjukkan  berhubungan dengan perkembangan, pemerintah Pakistan dan partai-partai politik  terus berada dalam kontak dengan unsur-unsur fundamentalis dan teroris.  Karena unsur-unsur tersebut dapat dipakai untuk mentargetkan  India yang akan membantu mereka mendapatkan suara mendukung di Pakistan.  Kini sudah  waktu bagi orang-orang seperti Hafij Saeed untuk mengeluarkan kata-kata buruk terhadap India.

Bagaimana pun juga, masyarakat global tidak lah merasa aneh dengan cara-cara Faksi Finasial, FATF, yang merupakan pengawas global  yang mengawasi  pembiayan  teroris dan penyelundup uang, mendesak Pakistan agar menyerahkan laporan pematuhan  di dalam waktu 3 bulan berikutnya tentang aksi yang diambil oleh Pakistan terhadap kelompok-kelompok seperti Lashkar-e-Taiba dan Jamat ud-Dawa yang dipimpin oleh Hafiz Saeed.  Untuk pertama kalinya, Bank Sentral didesak    secara spesifik agar melaporkan tentang  langkah-langkah yang diambilnya untuk menutup saluran biaya kepada kelompok-kelompok tersebut.  Keputusan itu diambil selama sesi pleno dari Gugus Tugas  FATF di  kota Buenos Aires, Argentina, ketika India menimbulkan soal tersebut  di dalam Kelompok Peninjauan  Kerjasama Internasional dari FATF tersebut.  Keputusan  itu didasarkan pada laporan dari Kelompok Asia Pasifik dari FATF berkaitan engan penyelundupan uang, yang menyatakan rasa prihatin  tentang resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1267, dengan menyatakan bahwa “ orang-orang individu dan entiti-entiti yang sudah diumumkan sebagai terlarang menerima terus dan memakai  dana tanpa kontrol dari pihak-pihak penguasa yang bersangkutan”.  Amerika Serikat sudah mengumumkan hadiah sebesar 10 juta dollar bagi siapa saja yang membantu dalam penangkapan Hafiz Saeed.

Pakistan didesak agar berbagi informasi  dan mengurus semua badan-badan baik federal maupun pemerintah propinsi  yang mempunyai peranan dalam mengidentifisir dan membekukan harta properti yang berkaitan dengan resolusi-resolusi nomor 1267 dan 1373.  Pakistan juga perlu berbagi informasi tentang usaha-usaha yang diadakannya untuk melarang orang-orang individu dan entititi-entiti  bersangkutan yang terlarang dari mempunyai aksi pada harta-bendanya d n layanan-layanan finansialnya.

Sebelumnya, Departmen Layanan Keuangan Amerika Serikat, yang merupakan pengendali perbankan negara itu yag bekuasa di New York mendesak bank swasta Pakistan di sektor swasta, Habib Bank agar menutup cabangnya di Amerika Serikat, ketika mereka mengetahui  bahwa bank tersebut membiayai organisasi-organisasi  teroris, termasuk  Al Qaeda.  Bank itu beroperasi atas kerja-sama dengan Arab saudi.

Secara penting, Cina berusaha sebaik-baiknya untuk memblokade Gugus Tugas FATF tersebut dari menuntut laporan dari Pakistan, tetapi Beijing tidk berhasil  karena tidak ada peraturan veto di dalam organisasi tersebut.  Peraturan menyatakan bahwa sekurang-kurangnya  dua negara yang berbicara harus menolak sesuatu keputusan yang diambil oleh organisasi tersebut.  Cina tidak melihat stu pun negara lain yang mendukungnya.  Ini menyatakan betapa kuatnya tekad teguh dari masyarakat internasional untuk mengurus secara ketat terhadap bahaya terorisme. Sekian.