Bank Sentral India, RBI mempertahankan harkat Repo sebgai 6 per sen setelah peninjauan kebijakan monetar

Bank SentralIndia, RBI tidak mengubah harkat pinjaman setelah mengadakan peninjauan kebijakan monetar pada hari Rabu.  Komite Kebijakan Monetar ang terdiri atas 6-anggota yang diketuai oleh Gubernur RBI, Urjit Patel mempertahankan harkat repo pada 6 per sen , yaitu harkat pada yang mana RBI memberi pinjaman kepada bank untuk janka pendek. Harkat  repo balik tetappada 5,75 per sen. RBI  mengatakan alasan di belakang keputusan tersebut adalah mencapai  target laju inflasi jangka madia untuk indeks harga konsumen sebagai 4 persen, sambil mendukung pertumbuhan.  Ketika mengharapkan bahwa situasi harga akan makin menjadi keras, RBI meningkatkan penaksiran   laju inflasinya sebagai antara 4,3 sampai 4,7 per sen, dari projeksi sebelumnya yaitu antara 4,2 sampai 4,6 per sen untuk  pertengahan kedua dari taiskal sekarang ini.  Ketika  mengemukakan kebijakan ,  Gubernur RBI Urjit Patel mengatakan, Komite tersebut mengambil  keputusan untyk meneruskan posisi kebijakannya yang netral.

Dia mengatakan, komite menyatakan rasa prihatin tentang imlikasi-implikasi atas gambar laju inflasi   dari kelemahan fiskal yang mungkin dan ketidak-stabilan keuangan global yang tercermin dalam goyangan harga aset.  Bagaimana pun juga, Komite tersebut juga mengharapkan mungkin akan terjadi moderasi eperti yang biasa pada harga sayur-mayur yang tergantung pada musim dan makanan dan pengurangan harkat pajak oleh Dewan pajak GST untuk mengurangi beberapa dari tekanan ini.

Bank Agung tersebut mempertahankan ramalan pertumbuhan GDP sebagai 6,7 per sen untuk tahun 2-17-18.  RBI mengatakan bahwa keanaikan harga minyak mentah global baru-baru ini  mungkin akan tetap sama.  Dan  dikatakannya bahwa implementasi   penghapusan pinjaman pertanian  oleh beberapa negara bagian,  pencabutan kembalai secara sebagian beberapa pajak bea-cukai dan pajak VAT dalam kasus produk minyak bensin, dan berkurangnya pendapatan karena pemotongan harkat pajak GST mungkin akan menimbulkan beberapa kelemahan fiskal.