“Penolakan Dari Pakistan Mengenai Suaka Nyaman Orang-Orang Teroris”

Oleh : Anita Das / Dr. Zainab Akhtar :  Taktik-taktik tekanan dari administrasi Trump terhadap Pakistan untuk memberantas terorisme dan menghapuskan tempat-tempat perlindungan orang-orang teroris adalah cukup nyata  dalam urusan politik luar negerinya dengan Islamabad.  Selama kunjungan pertamanya ke Pakistan, Menteri Luar Negeri AS, James Mattis menegaskan kembali itu  dan secara kuat menekankan bahwa Pakistan harus meningkatkan usaha-usahanya untuk berjuang terhadap orang-orang teroris yang beroperasi di negara itu.  Menteri Pertahanan AS juga mendesak Pakistan untuk memainkan suatu peranan positif demi perdamaian dan kestabilan di kawasan ketetanggaannya.

Dengan pengumuman kebijakan Trump terhadap Afghanistan, Washington mendesak Pakistan dan berkonfrontasi dengan negara itu pada sejumlah kesempatan untuk mengurus dengan terorisme secara lebih keras.  Ada kesadaran diantara para pembuat kebijakan AS bahwa Afghanistan yang terus menghadapi perang sejak 16 tahun yang lalu  dapat menjadi stabil jika Pakistan menghentikan menyediakan suaka kepada orang-orag militant Afghanistan.  Tidak dapat dibantah faktanya  bahwa orang-orang teroris  dari Pakistan menyeberangi daerah perbatasan yang kurang jelas untuk melakukan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS serta terhadap pemerintah Afghanistan.  Ada penerusan dalam pola serangan-seranganitu, dan orang-orang teroris yang pulang ke tempat perlindungannya setelah melakukan serangan di Afghanistan akhirnya mendapatkan proteksi dari semua kalangan masyarakat di Pakistan.

Dalam suatu peninjauan yang kasar, Jenderal John Nicholson, yaitu panglima top dari AS di Afghanistan, mengatakan bahwa tidak ada perubahan dalam dukungan dari Pakistan pada  jaringan kemilitanan.  Kekecewaan dari pemerintah Trump atas dukungan secara rahasia dari Pakistan kepada kelompok-kelompok teroris khususnya jaringan-jaringan Taliban dan Haqqani yang dipelihara dan berkembang di Pakistan, adalah jelas.  Pakistan pada pihak lain selalu menolak disediakannya tempat perlindungan kepada orang-orang teroris dan menyatakan bahwa operasi-operasi kontra-terornya dilakukan pada tahun 2014 untuk menghapuskan jaringan Haqqani dan kelompok-kelompok militan lainnya dari daerah-daerah perbatasan dengan Afghanistan.  Bagaimanapun juga, Menteri Pertahanan , Mattis menunjukkan bahwa Pakistan perlu  menghentikan retorika dan mengambil langkah-langkah yang sebenarnya untuk memberantas terorisme.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Pertahanan, Mattis mencerminkan penegasan terus-menerus dari AS bahwa Pakistan tidak berusaha keras secukupnya untuk memberantas terorisme dan kelompok-kelompok pemberontak di wilayahnya.  Perlu disoroti bahwa baru-baru ini Gedung Putih mendesak Pakistan untuk mengadili dan menahan dengan segera dalang serangan tertanggal 26 Nopember, Hafiz Saeed, jika Pakistan tidak berbuat demikian, maka Pakistan akan menderita akibat-akibatnya. Peringatan-peringatan keras ini dari Administrasi Trump membongkarkan  sikap penipuan dari pemerintah Pakistan mengenai dukungan yang diberi secara rahasia kepada organisasi-organisasi terror.

Setelah pertemuan dengan dengan Menteri Pertahanan AS, Mattis, Perdana Menteri dalam jawaban pada suatu pertanyaan  mengatakan bahwa tidak ada tempat perlindngan orang-orang teroris di Pakistan dan Islamabad berkomitted untuk berjuang terhadap terorisme. Perlu dicatat bahwa hubungan antara AS dan Pakistan  menjadi terburuk sejak diumumkannya strategis Afghanistan oleh Trump.  Kebijakan yang mengandung kata-kata keras membimbungkan  Pakistan dan mengakibatkan kegelisahan di Islamabad dan menimbulkan protes anti-AS  di jalan-jalan. Dalam respon pada tuduhan-tuduhan oleh administrasi AS atas memelihara  “agen-agen kekacau-balauan” dan menawarkan suaka kepada kelompok-kelompok militan yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintah di Kabul, militer di Pakistan menolak sesuatu spekulasi semacam itu dengan melukiskan itu sebagai propaganda untuk mengganggu kestabilan Pakistan.

Peningakatan serangan-serangan militan baru-baru ini, khususnya serangan Peshawar dimana seorang teroris Taliban yang memakai hijab  menyerang terhadap Perguruan  Tinggi Pertanian dan menewaskan sekurang-kurangnya 9 mahasiswa , membongkarkan kelemahan sistem perjuangan terhadap orang-orang teroris di Pakistan.  Kelompok Tehrik-i-Taliban (TTP) mengklaim tanggung-jawab untuk serangan tersebut.  Itu adalah suatu serangan sama seperti serangan terhadap Sekolah Tentara   pada tahun 2014 di Peshawar ketika sekitar 150 anak sekolah ditembak-mati.

Sejumlah partai politik sayap kanan yang berafiliasi dengan organisasi-organisasi teroris berkembang secara cepat di Pakistan.  Kelompok Jamaat-ud-Dawah (JuD) yang dituduh oleh AS atas merupakan sebagai suatu fron untuk Lashkar-e-Taiba anti-India yang melakukan serangan teror Mumbai tahun 2008, masuk  dalam arena politk tahun ini dengan diluncurkannya partai politik baru, Liga Muslim Milli.  Tehreek-i-Labaik Pakistan (TLP) adalah sayap politik dari organisasi sayap-kanan yang setia, Tehreek-i-Labaik Ya Rasool Allah mencapai momentum politik dengan memuji pembunuh mantan-gubernur propinsi Punjab.  Ini kurang penting, sampai kemana Pakistan membantah  tentang adanya tempat perlindungan bagi orang-orang teroris, kebenarannya  adalah bahwa terorisme mempunyai akar mendalam dalam struktur masyarakat dan  politik Pakistan.  Sudah tiba saat bagi Pakistan agar membersihkan sendirinya dan menghapuskan semua tempat sembunyi sebelum terorisme masuk dan menghancurkan struktur sosial dan politik negara itu. Sekian.