Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi pengakuan pada Jerusalem sebagai ibu kota Israel; mengumumkan rencananya untuk memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi pengakuan pada Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan mengumumkan rencananya untuk memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat ke kota tersebut yang sekarang ini terletak di kota Tel Aviv.  Dalam pidatonya yang disiarkan melalui telivisi dari Gedung Putih kemarn malam, Trump mengatakan  itu adalah suatu langkah yang ditunggu-tunggu sejak lama.  Dia juga mengeluarkan instruksi kepada  Kementerian Luar Negeri agar memulai dengan segera proses konstruksi Kedutaan Besar AS di Jerusalem.

Pada waktu yangs  sama, Presiden Amerika Serikat menegaskan kembali komitmennya pada  solusi dua negara pada konflik Israel-Palestina.  Dia mengatakan, Amerika Serikat tetap berkomited secara mendalam pada  membantu agar tercapai  pakta perdamaian  yang dapat diterima baik oleh kedua belah pihak.

Presiden Trump mengakui bahwa perbatasan spesifik  dari perdaulatan Israel di Jerusalem tergantung pada status terakhir dari perundingan antara pihak-pihak yang bersangkutan dan menegaskan kembali  dukungan Amerika Serikat pada status quo  di Temple Mount, juga dikenal sebagai Haram al Sharif.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji keputusan AS.  Dia melukiskannya sebagai suatu keputusan yang bersejarah dan berani, dan adil.   Netanyahu juga bersumpah  tidak akan terjadi sesuatu perubahan pada status quo di tempat suci  Jerusalem yang sangat lah sensitif di kota itu.

Pengumuman Amerika Serikat, yang dituntut sejak lama oleh Isreal, memecah  kebijakan Washington yang berjalan sejak beberapa dekade serta konsensus internasional. Para pemimpin dunia  menyerukan pada Trump agar mempertimbangkan kembali keputusannya dan memperpingatkan bahwa ini dapat saja akan merugikan  proses perdamaian dan menimbulkan kerusuhan di kawasan itu maupun di luar kawasan tersebut.

Status kota Jerusalem  yang merupakan tempat suci bagi kaum Muslimin, Yahudi serta Kristen, merupakan salah satu soal utama  dari konflik Israel-Palestina yang memperpanjang terus.

Ketika memimpin ungkapan global yang  tidak setuju dengan keputusan Presiden AS, Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa kota suci merpakan isu status terakhir yang harus dipecah melalui perundingan langsung.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan, keputusan ini  berarti Amerika Serikat sudah tidak  merupakan lagi pihak perantara perdamaian setelah mesnsponsori proses perdamaian Israel-Palestina  selama satu dekade.  Di dalam pidatonya setelah pengumuman  dari Trump, dia mengatakan Jerusalem merupakan ‘ibukota abadi negara Palestina’.

Kepala Kelompok Islamis Hamas, Ismail Haniyeh mengatakan rakyat Palestina  dimana mana tidak akan membolehlan  komplotan ini berhasil   dan pilihan-pilihannya tetap terbuka untuk membela  tanahnya dan tempat-tempat suci mereka.

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengatakan,keputusan itu tidak masuk akal.  Dia menulis  pada tweeter bahwa keputusan tersebut tidak sesuai dengan peraturan hukum inernasional dan  resolusi-resolusi PBB yang relevan.

Media Arab Saudi mengatakan, Raja Salman mengatakan kepada Trump melalui percakapan telepun  bahwa sesuatu deklarasi tentang status Jerusalem  sebelum tercapai suatu penyelesaian terakhir akan merugikan proses perundingan perdamaian dan meninkatkan ketegangan di kawasan tersebut.