11.01.2019

Oleh-T.P.Singh / Padam Singh : Media cetak India  memperingatkan dunia agar diambil langkah-langkah cepat untuk mengatasi masalah perubahan iklim sebelum hal-hal menjadi di luar kontrol.  Pertemuan antara Xi dan Kim di Beijing telah dibahas oleh koran-koran India. Kecaman terus oleh Presiden Amerika Serikat terhadap para imigran terutamanya dari Amerika Latin telah dikecam oleh harian India.

Harian THE PIONEER dalam tajuk rencananya menulis bahwa dengan dua studi terpisah yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat,  yang merupakan negara terbesar kedua yang mengeluarkan emisi karbon di dunia setelah China, menunjukkan lonjakan besar dalam emisi karbon tahun lalu, para ilmuwan iklim khawatir bahwa ini akan berarti bahwa bahwa Amerika Serikat tidak akan berusaha mengurangi kebutuhannya, sebagaimana yang tertampak  dengan mereka telah mengumumkan akan menarik-mundur secara resmi dari perjanjian Iklim Paris, meskipun proses ini akan memakan waktu tiga tahun. Walaupun demikian, unsur-unsur di Gedung Putih yang skeptikal dan pejabat-pejabat senior dalam pemerintahan Trump tentang perubahan iklim, meragukan sains iklim modern ketika  membatalkan program pengurangan karbon dari jaman Obama, dan dengan jaminan bahwa Amerika Serikat akan menarik-mundur dari Pakta Paris sampai tahun 2020 , bisakah mungkin dunia akan tergantung padanya? Dengan para pemimpin global utama lainnya menghadapi tantangan mereka sendiri, masalah perubahan iklim telah menjadi masalah besar. Pada saat kita bertindak tentang hal itu, persoalan ini mungkin  akan menjadi di luar kendali.

Harian THE HINDU dalam tajuk rencananya mengatakan bahwa kunjungan ke China oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, atas undangan Presiden Xi Jinping, penting karena dua alasan yang berbeda. Ini adalah bukti dari ketenangan yang terus berlangsung di semenanjung Korea selama hampir satu tahun sejak pencairan antara Pyongyang dan Washington yang memuncak pada KTT Singapura pada bulan Juni 2018. Pertemuan itu juga bertepatan dengan dimulainya kembali negosiasi perdagangan minggu ini antara delegasi AS dan Cina di Beijing. Harapannya adalah bahwa dialog antara para tetangga regional dapat berdampak pada sengketa perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia. Sedangkan Xi Jinping sangat ingin mendapatkan kelonggaran sanksi terhadap Kim, Presiden Amerika Serikat  Donald Trump akan sama-sama bersemangat bahwa perjanjian damai terus bergema di kawasan tersebut dan di kawasan sekitarnya, terlepas dari rintangan praktis yang telah dihadapi. Pertemuan Xi Jinping dan Kim Jong-Un tidak dapat mengabaikan kemajuan yang terhenti pada denuklirisasi semenanjung Korea yang disetujui oleh Kim dan Trump di Singapura.

Para pemimpin Amerika dan Korea Utara dalam beberapa hari terakhir menegaskan kembali kesediaan mereka untuk menjadwalkan pertemuan puncak bilateral lainnya, sebuah harapan yang telah mereka pertahankan selama berbulan-bulan.

Harian Indian Express dalam tajuk rencananya mengatakan bahwa  ‘Amanat’ dari Kantor Oval adalah lembaga Amerika yang baik, yang presiden telah gunakan pada saat krisis untuk mengadakan kontak  langsung dengan masyarakat. Franklin D Roosevelt menggunakannya untuk menjelaskan ‘Pakta Barul’, dan untuk menggalang dukungan bagi negara setelah serangan pelabuhan Pearl Harbor. Penggantinya, Harry S Truman, berbicara tentang Perang Korea dan Pengontrolan senjata. Dwight Eisenhower menetapkan komitmennya pada desegregasi, John F Kennedy menjelaskan krisis rudal Kuba dan Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir, dan Jimmy Carter berbicara tentang upaya yang gagal untuk membebaskan para diplomat Amerika Serikat di Teheran. Sekarang, Donald Trump telah menggunakan amanat  dari Kantor Oval pertamanya dari kepresidenannya untuk meningkatkan bogey seperti “obat-obatan terlarang dalam jumlah besar” dan ” kelompok jahat dan keji” yang tampaknya meraja lela karena para imigran. Trump tidak mengatakan adanya keadaan darurat nasional untuk mendapatkan pendanaan untuk membangun tembok di perbatasan selatan, yang banyak dikhawatirkan akan dilakukannya. Akan tetapi mengatasi lalu lintas manusia adalah inti dari pidatonya yang panjang, seperti yang terjadi pada seluruh masa jabatan kepresidenan Trump. Imigran sebagai suatu kaum, menghabiskan sumber daya besar  yang sebenarnya adalah bagi orang orang Amerika Serikat, dan ini mempengaruhi buruk gaya hidup orang orang Amerika, telah menjadi kontribusi Trump yang paling penting bagi Amerika Serikat yang nampaknya sangatlah bimbung tentang soal tersebut, demikian disimpulkan oleh surat kabar ini.