02.05.2019

Oleh-K.K.DAS / Kaushik Roy:  Beberapa harian India mengatakan bahwa Inisiatif Belt dan Road, yaitu BRI dari Cina perlu menjamin transparansi. Surat-surat kabar  berpendapat bahwa masyarakat internasional harus bertindak bersama untuk mendesignasikan kepala Jaish-e-Mohammad (JeM) Masood Azhar, sebagai teroris global. Pers India juga berkomentar tentang pembantaian yang dilakukan di tempat-tempat ibadah di seluruh dunia.

Harian THE HINDU dalam tajuk rencananya menulis bahwa dua tahun setelah forum inisiatif  Belt and Road diresmikan dengan keriuhan, pidato Presiden Cina Xi Jinping di forum BRI kedua merupakan indikasi yang jelas bahwa Beijing akan mendapatkan dorongan yang telah diterima proyek ambisiusnya. . Pidato Xi kepada 37 kepala pemerintahan dan Sekretaris Jenderal PBB dan Direktur Pelaksana IMF memiliki banyak hal penting, termasuk komitmen yang dinyatakan untuk “transparansi dan keberlanjutan” proyek-proyek BRI, dan untuk keberlanjutan hutang yang lebih besar dalam “model pembiayaan” dari Belt dan Road di bawah prinsip panduan baru. Sejak 2017, India, AS dan negara-negara lain telah kritis terhadap kurangnya transparansi yang dengannya banyak proyek BRI dinegosiasikan dengan pemerintah. Sri Lanka, Maladewa, dan Malaysia memiliki pemikiran kedua tentang beberapa proyek infrastruktur atas kekhawatiran akan “jebakan utang”, dan tuduhan korupsi dalam proyek-proyek BRI menjadi masalah pemilihan. Pada bulan April tahun lalu, Duta Besar Uni Eropa untuk Beijing mengeluarkan pernyataan bahwa BRI menjalankan “hal yang bertentangan” dalam agenda mereka untuk meliberalisasi perdagangan dan “mendorong keseimbangan kekuasaan demi perusahaan Cina yang disubsidi”.

Harian HINDUSTAN TIMES dalam tajuk rencananya mengatakan  bahwa dalam kemenangan diplomatik penting untuk India, Masood Azhar, yaitu kepala organisasi teroris yang berbasis di Pakistan, Jaish-e-Mohammed (JeM), kemungkinan akan terdaftar sebagai teroris global oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Upaya India untuk mendapatkan sanksi terhadap kepala JeM telah lama gagal karena pendirian  Cina. Contoh terakhir atas alasan penundaan teknis dari Cina terjadi pada tanggal 13 Maret – hampir sebulan setelah serangan teroris pengecut di Pulwama yang diklaim oleh JeM sebagai yang bertanggung jawab. PBB telah menyebutkan nama JeM dalam sebuah pernyataan yang mengutuk serangan Pulwama. Tapi itu tidak membuat Cina beranjak pada mentermasukkan nama Massod Azhar dalam daftar teroris global . Yang pasti, adalah daftar PBB, jika itu terjadi, adalah langkah simbolis. Bahkan jika Azhar tidak diermasukkan dalam daftar itu, organisasi JeM sudah diumumkan sebagai organisasi teror.  Lashkar-e-Taiba (LeT) dan pemimpinnya, Hafiz Saeed, juga sudah diumumkan sebagai organisasi teror dan teroris menurut resolusi PBB nomor 1267.

Harian THE STATESMAN dalam tajuk rencananya dari Christchurch di Selandia Baru ke Poway di California ke Colombo, sejak pertengahan Maret, telah terjadi peningkatan mengerikan dalam kekacauan yang tertanam dalam kebencian agama. Sulit untuk tidak bertanya-tanya apakah tidak toleransi dapat menyebabkan begitu banyak kekerasan. Kematian hanya satu orang dan melukai tiga lainnya dalam tembak-menembak di sebuah sinagog di California tidak mengurangi dahsyatnya yang tragedi akhir pekan lalu. Kemarahan yang berulang-ulang terjadi di berbagai negara yang paling penting, tanpa menyimpang dari perkiraan relatif jumlah korban jiwa raga.  Penembakan di kota Poway telah terjadi tepat enam bulan setelah seorang supremasi kulit putih menembak mati sebelas orang di Tree of Life Synagogue di Pittsburgh. Serangan besar terhadap orang-orang Yahudi dalam sejarah Amerika sekarang telah ditindaklanjuti dengan impunitas. Kemarahan terbaru pada hari terakhir perayaan Paskah orang Yahudi dilakukan dalam waktu kurang dari seminggu setelah serangan teroris yang diklaim oleh IS sebagai dilakukan pada gereja-gereja di Sri Lanka. Jika Selandia Baru, Sri Lanka, dan Amerika Serikat dianggap sebagai studi kasus, akan sangat menyakitkan untuk merefleksikan bahwa Muslim, Kristen, dan Yahudi adalah target korban kejahatan terhitung. Jika pemerintah AS sekarang berada di bawah pengawasan yang diperbarui, maka ini  terutamanya karena pemikiran dua kali tentang soal nasionalisme kulit putih menjadi liar di pucuk pimpinan di negara itu, demikian disimpulkan oleh surat kabar ini.